|
|
 |
Jan 28, 2009
Amdal: Faktor percepatan kerusakan lingkungan
Penulis yakin bahwa judul diatas bagi beberapa kalangan dianggap sebagai sebuah premis yang prematur dan terkesan mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Apalagi bagi kalangan pengagum Prof Otto Soemarwoto yang menginisiasi pendekatan ini dan berpandangan bahwa tools ini dapat memperbaiki kondisi lingkungan kearah yang lebih baik.
Namun setidaknya pemilihan judul tersebut berangkat dari beberapa realitas yang tidak terbantahkan. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan hingga premis di atas muncul antara lain adanya laporan yang direlease oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang mengakui bahwa 78 persen amdal di Indonesia bermasalah. Demikian pula realitas kondisi laju kerusakan lingkungan bukannya semakin berkurang malah sebaliknya linear dengan banyaknya dokumen amdal yang telah disusun dan dapat ditemukan diperpustakaan dinas terkait.
Sungguh sebuah ironi, ketika gagasan luhur dari kehadiran managemen lingkungan yang diharapkan sebagai filter pertama mengurangi dampak penting yang ditimbulkan akibat peningkatan aktifitas pengelolaan sumber daya alam malah cenderung bergerak liar dan kontra produktif terhadap spirit awalnya.
Banyak faktor penyebab hal ini terjadi yaitu pertama, dokumen yang disusun sebagai bagian identifikasi dampak penting dan solusi mengelola dampak penting ini sangat miskin isi dan miskin dalam pengawasan. Pihak ketiga (konsultan) yang dianggap kompoten dalam penyusunan amdal lebih banyak berkiblat dan didikte terhadap kemauan pemrakarsa dibanding mengabdikan dedikasinya pada lingkungan. Hal ini terjadi akibat pemrakarsa menjadi dewa yang memiliki otoritas untuk menyetujui konsultan yang akan menyusun amdal. Menjadi satu kemahfuman ketika pemrakarsa “memesan” konsultan kepada instansi terkait untuk melakukan penyusunan amdal di areal kerja mereka. Mereka menginginkan konsultan yang terpilih dapat diajak “berdiskusi” dan berkompromi tentang isi dokumen sesuai dengan keinginan pemrakarsa.
Belum lagi kompetisi konsultansi amdal membuat harga penyusunan dokumen amdal yang semakin kompetitif dan murah mengakibatkan dokumen disusun seadanya akibat keterbatasan dana. Tidak mengherankan beberapa dokumen amdal disusun dalam kurun waktu yang sangat singkat. Dan lebih hebatnya lagi terkadang ada jasa konsultansi yang dapat menyusun 4 dokumen amdal dalam waktu yang bersamaan. Pertanyaan mendasar adalah dengan kurun waktu yang singkat ini informasi apa yang akan ditemukan untuk mencoba menyusun rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang baik? Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah identifikasi dampak penting pada aspek sosial. Kurun waktu seminggu rasanya sangat tidak cukup untuk mendapatkan informasi yang komprehensif untuk menyusun dampak penting yang ditimbulkan akibat aktifitas eksploitasi sumber daya alam.
Tidak heran pula apabila ada dokumen amdal yang sepertinya hanya merupakan copy and paste dari dokumen amdal di tempat lain. Di beberapa kasus ada dokumen amdal yang masih tercantum nama wilayah lain akibat keteledoran konsultan dalam copy and pastenya. Atau ada pula justifikasi dari konsultan terkait dengan kemiripan antara satu dokumen amdal dengan yang lain karena menurut mereka antara kawasan satu dengan yang lain memiliki tipologi yang sama. Ironis rasanya mendengarkan pembenaran ini.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah selain miskin isi, amdal dalam implementasinya juga miskin pengawasan. Dinas terkait yang diberikan tanggung jawab oleh Negara, dengan alasan keterbatasan penganggaran, tidak melakukan pengawasan terhadap perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Akibatnya sudah dapat ditebak: sangat sedikit perusahaan yang merupakan pemrakarsa melakukan manajemen lingkungan ini secara konsekuen.
Kedua, bagi pemrakarsa, amdal dianggap sebagai ijin untuk melaksanakan aktifitas kegiatannya. Amdal bukannya dilihat sebagai bagian pertanggungjawaban untuk berkontribusi mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Bagi pemrakarsa, setelah komisi amdal menyetujui dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), maka saatnya bagi perusahaan untuk melaksanakan kegiatan dan tidak peduli apakah hal tersebut sesuai dengan RKL dan RPL yang disusun sebelumnya. Sebagai contoh, ada perusahaan yang cukup bonafit ketika dikonfirmasi keberadaan dokumen amdal, perusahaan ini tidak mampu menunjukkan dengan alasan tercecer. Kita tidak tahu apakah mereka telah mengetahui isi dokumen tersebut diluar kepala atau mereka tidak pernah peduli sehingga dokumen penting ini tidak terdokumentasi dengan baik.
Ketiga, karena penyusunan dokumen amdal diinisiasi oleh pemrakarsa dalam aspek pendanaan, setidaknya kondisi ini menimbulkan konflik kepentingan. Konflik kepentingannya adalah pemrakarsa menginginkan pihak yang menyusun dokumen amdal sesuai rekomendasi dan keinginan mereka. Kondisi ini menimbulkan peluang kebocoran pada aspek kualitas dokumen. Lemahnya transparansi pemilihan konsultan penyusun amdal juga dapat menimbulkan kebocoran lain terhadap akuntabilitas penggunaan dan dalam penyusunan dokumen. Instansi terkait yang seharusnya menjaga akuntabilitas ini malah terkesan bermain dengan memberikan tanggung jawab ini kepada pihak yang dapat ”bekerja sama”. Tak heran apabila ada konsultan yang mengeluhkan tentang besarnya pemotongan dana penyusunan amdal oleh oknum tertentu. Namun dalam pandangannya daripada diberikan kepada pihak lain lebih baik dilakukan saja seadanya. Toh mereka dijanjikan akan dibantu saat presentasi dokumen ini dihadapan komisi amdal. Belum lagi pemanfaatan anggaran penyusunan amdal tidak diperuntukkan untuk melakukan studi yang berkualitas, namun proporsi anggaran lebih banyak dialokasikan untuk hal-hal yang sifatnya adminstratif.
Keempat, dalam sejarah perjalanan pelaksanaan amdal, sangat sedikit dokumen amdal yang ditolak oleh komisi amdal kalau tidak ingin mengatakan tidak pernah ada. Kemungkinan terburuk dokumen amdal diterima dengan catatan yang dalam pandangan pemrakarsa sudah merupakan kabar gembira karena kegiatan mereka dapat dimulai. Selama ini komisi amdal terkesan impoten dalam mengeksekusi kualitas dokumen yang tidak memadai. Tidak adanya shock theraphy terhadap kualitas dokumen yang rendah menyebabkan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan amdal bermasa bodoh untuk menyusun dokumen yang berkualitas.
Pun pernah terjadi satu kasus dimana salah satu anggota komisi amdal disalah satu kabupaten menolak menandatangani persetujuan dokumen amdal salah satu perusahaan tambang. Namun dalam perjalanannya akhirnya dapat diselesaikan dengan ”baik” dimana pemrakarsa melakukan lobby kepada pimpinan instansi anggota komisi yang selanjutnya kapasitas keanggotaan di komisi amdal digantikan oleh personil yang lain. Tentunya lobby ini melibatkan transaksi-transaksi di belakang meja.
Kelima, manajemen amdal yang amburadul turut menambah daftar percepatan kehancuran lingkungan. Di beberapa kawasan DAS, setidaknya telah dipenuhi dengan aktifitas pertambangan dan perkebunan. Semua perusahaan telah memiliki Amdal. Namun tidak disadari bahwa kepemilikan amdal oleh semua perusahaan ini tidaklah cukup untuk mengurangi dampak penting karena ada dampak akumulatif yang disebabkan oleh banyaknya perusahaan tambang dan perkebunan dalam satu kawasan DAS.
Menilik kondisi ini, diperlukan kesadaran dan komitmen bersama untuk membawa manajemen lingkungan ini kembali ke khittahnya. Diperlukan gerakan bersama agar semangat lahirnya gagasan ini kembali sebagai alat yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan eksploitasi sumber daya alam.
Penyusun amdal yang harus diakui mayoritas berasal dari latar belakang akademisi dan intelektual harus membawa ideologi yang berpihak pada lingkungan. Ini menjadi otokritik pada akademisi dan perguruan tinggi untuk mengawal agar amdal tidak bergerak seperti bola liar yang hanya akan menjadi faktor percepatan kerusakan lingkungan itu sendiri.
Demikian pula perlu transparansi dan akuntabilitas pihak yang disepakati sebagai penyusun amdal. Pengetatan aturan tidak hanya pada kompetensi anggota penyusun yang dibuktikan dengan beragam sertifikat, namun juga perlu diperlukan mekanisme tender yang transparan untuk pihak yang menyusun dokumen amdal. Walaupun dana yang dipergunakan dalam penyusunan amdal bukan berasal dari APBN/APBD, namun dampak yang akan diterima menyangkut kepentingan publik sehingga seyogyanya diperlukan lembaga yang benar-benar kompoten dan bertangung jawab serta bersedia menerima tanggung gugat terhadap kualitas dokumen yang dihasilkan.
Setidaknya mekanisme ini dapat menghindari kemungkinan pesanan pemrakarsa terhadap pihak-pihak tertentu yang mereka inginkan agar dokumen yang disusun sesuai dengan keinginan mereka.
Namun apabila penggiat, pelaku bisnis dan penyusun amdal tidak berubah dan senantiasa merasa berada pada zona nyaman untuk tetap melaksanakan pakem yang ada saat ini, maka kita harus berani mengatakan bahwa amdal hanya menjadi alat justifikasi pemerintah, swasta dan penyusun amdal yang memiliki latar belakang intelektual akademis. Dengan berat hati kita harus menyimpulkan bahwa amdal merupakan faktor utama percepatan laju kerusakan lingkungan di negeri ini.
Sekarang kita diperhadapkan pada pilihan: ”meneruskan percepatan laju kerusakan lingkungan dengan pakem implementasi amdal saat ini atau kita berkomitmen mengurangi laju kerusakan lingkungan dengan melakukan reinventing terhadap semangat amdal yang dicita-citakan oleh inisiatornya.
Posted at 01:57 pm by tomyyulianto
Permalink
Entah kenapa, pikiran ini begitu terobsesi untuk beternak bebek. Lahir dari latar belakang peternak juga bukan. Seharusnya cukuplah saya mengikuti jejak orang tua yang menjadi petani. Namun sayangnya jengkal demi jengkal dipertaruhkan olehnya untuk kepentingan menuntut ilmu. Sehingga lahan dari hari ke hari semakin menyusut.
Pertaruhan menuntut Ilmu? Itu idealnya...Seandainya orang tua tahu bahwa anaknya hanya banyak menghabiskan waktu di kantin dan ngobrol tidak tentu juntrungannya, mungkin sang terhormat tidak akan sedemikian gigihnya untuk mempertaruhkan segala apa yang dimilikinya. Maaf...
Kembali kesoal bebek...
Awal mula dari ketertarikan ini tidak lebih dari candu media yang namanya Televisi. Tampak dilayar, saat fajar menjelang, betapa nikmatnya sang peternak ketika memungut satu persatu telur yang bertebaran di kandang. Sepertinya hidup terasa nikmat dibanding tiap hari harus bangun dengan tuntutan berangkat kerja dan setiap akhir bulan terima gaji. Dengan beternak, tentunya tidak perlu tergantung dengan aturan dan politicking di tempat kerja yang dari hari ke hari semakin memuakkan.
Seperti hari ini, ditengah rasa bosan melanda, saya teringat kembali obsesi besar ini. Mudah-mudahan ini dapat terwujud untuk melepaskan kepenatan kerja yang semakin tidak jelas tujuannya.
Salam
Posted at 01:40 pm by tomyyulianto
Permalink
Jun 29, 2008
WHAT’S WRONG WITH CONSERVATION PROGRAM
WHAT'S WRONG WITH CONSERVATION PROGRAM:
AN AUTOCRITIZE TO FIND THE BEST SOLUTION
This article based on some skeptical statement about conservation program activities that have been taking place until today:
- We have formulated and arranged various kind of conservation tools in order to focus on conservation's goal achievement. Thus, we have developed strategic action and it's steps through a long process and internal plus external brainstormed which spent a quite amount of fund. However, in fact, the numbers of tools and strategies linear to the function, quality and quantity of natural resources degradation.
- Countless meetings, workshops and seminars that took place which present numerous experts from multidisciplinary science. Ecological, anthropology, sociology, law and policy expert met quite often to discuss the best approach for conservation. The goal of the meetings were to formulate a comprehensive approach which can be implemented by considering the needs or interest of stakeholders. In fact, these approaches haven't been contributing to the viability improvement of the conservation targets. Instead of decreasing, the conservation pressures trend even have been increasing. And there are countless meetings, workshops and seminars that showed no clear results and recommendations.
- We have built partnership strategy with private sector, government and other civil society groups in order have an optimal effort to slow down the forest degradation. It's assumed that more parties and resources involve, the efforts to save the nature would be much easier. But the fact shows that forest fire, degradation, illegal logging, forest conversion for other purpose still occurred.
- We have been working so hard to facilitate the capacity building for government, local community and other partner, so they would increase their commitment for conservation. In reality, these efforts haven't shows expected result. Many of them after the training, back to their offices and approved the forest conversion to palm plantation proposals. Not to mention the numbers of them that after participated in the training where we invested, being moved to other division that nothing to do with conservation.
- We have given our maximum efforts to conduct lots of assistance for local community. Delivered the messages of the conservation importance for them. Stimulated them with alternatives economic opportunities. Hopefully these could be their resource to halt the greed natural resources exploitation pressure from private and government side. However, in many cases, they even provided approvals the permit to convert the forest to be oil palm plantations.
- We have tried so hard to approach the politic elite who sit on the strategic position in the government, such as Governor, District Head, Sub-District head, Village Head, etc. The objective of the approach is to rise their awareness and gain their pro nature protection commitment. In fact, what has been happening that the pro conservation commitment could change instantly due to short term politic interest that they want to achieve. They would sacrifice the conservation in order to derive more votes in the general or local election.
- We have been supporting the establishment of local, regional and even national regulations that pro conservation through a long and complex processes. The regulations mean to be the first filter that could hamper the forest loss, minimize the illegal logging, etc. But again in fact, the issued regulations which spent a lot of fund during the formulation process, could be broke easily and even be replaced by other regulations which are contra.
- There have been so many Scholars majoring in conservation and forestry graduated from well known University, either local or international. Ideally they would increase the pro conservation troops number to win the battle with the contra conservation groups. In reality, after they have the job in conservation or forestry field, they prefer to work in an air conditioned office rather than work in the remote area which require their skill and knowledge. Even worst, many of them contribute in the forest and natural resources degradation by being the members of technical team that recommend the forest conversion to be a non forest area.
Those questions arose as the process reality of conservation efforts that have been taking place. It seems that the efforts taken so far just like pouring salt to the sea or in other words, the work that haven't show positive result, if we are not dare to say useless. Indeed there are several success story of management model to preserve the forest. Unfortunately it only a small piece of which not enough to claim conservation success in general since it not enough, compared to the forest loss, either planned or unplanned forest loss.
If these things going on and on, might it be possible that someday, conservation become a world that nobody recognize and not included in the dictionary and only can be found in the museum as the vanishing word? Or perhaps conservation just becomes a legend or a fairy tale and only being told by parent to their child before goes to bed?
The subjective questions and statements above could be our autocritize. It doesn't mean that me as a man of this nation has been surrender in the battle field to struggle for conservation goal. At least, these questions could stimulate us to continuously think, act, learn and work hard to formulate the best strategy and implement it so the nature protection not limited as a rhetoric only.

I do believe, we don't want that someday, conservation become a thing that a child would ask their mother while he or she visiting a museum because of extinction. (tsyulianto@tnc.org)
Posted at 09:53 am by tomyyulianto
Permalink
IF ONLY ORANG UTAN HAVE VOTE RIGHT
What do you think about Kutai National Park? It has been a large deforestation happening there. What is your reason to propose an enclave (cut out – author) there where it is an important area for conservation?
That was more or less a question aroused from one of four Governor Candidates to the other candidate during an East Kalimantan 2008-2013 Governor candidate's debate which broadcasted live on TV by a national TV station.
Having that question, with full self confidence, the pointed candidate responded "the community has been leaving there long time before the area stated as a national park by National Government. This area has been a definitive sub district where there are about 24.000 people living there. If I have to choose between Orangutan and human, I will choose human". It is obvious that the candidate prefer to accommodate human then Orangutan within the Kutai National Park area. There was a big applause after his respond from his loyal supporters.
Actually, it doesn't take a genius to guess the objective of his answer. By having the "pro community" answer, hopefully would create a positive sentiment from community which in turn could vote him to be a Governor of East Kalimantan. Obtaining as many as possible votes from community is the main factor to answer the question, even though by neglecting the conservation efforts especially for Orangutan in East Kalimantan.
It is indeed an irony when the Orangutan rescue effort has been declared recently by the national Government in a form of Orangutan action plan. We can imagine that if this candidate elected as the Governor of East Kalimantan for the next 5 years. In the name of "Community ", it is possible that protection or conservation areas converted for development, ignoring the ecology aspect.
It is obvious that the ideology of the candidate that pro development through the "pro poor, pro growth and pro employment" strategy, neglecting "pro conservation". When it is implemented, the Orangutan habitat protection scenario became even more difficult than the existing condition. The "pro poor, pro growth and pro employment" strategy will be interpreted as developing all sectors without taking the ecology aspect into account. And in turn, the challenge for Orangutan habitat protection will even bigger with the increasing of stress sources such as policy or decree stated by this candidate. The existent of Orangutan in the future will be threatened by the develop-mentalist ideology of this East Kalimantan Governor candidate.
If only Orangutan have a voter right in the Governor Election event, perhaps the respond from the candidate which prefers human rater Orangutan would be different, because the voter right would influence the campaign strategy. They would take the Orangutan vote into account. It will force the candidate to give more attention to them since their votes will affect the total votes they will get. And for the Orangutan themselves, they could choose the candidate that they think could protect their habitat and ensure that they live happily.
The election has just finished. The candidate is one of two candidates that have the highest votes, which mean he has a big opportunity to be the Governor for the next period. If this happened, will the Orangutan even more marginalized? Or even worst, will it be extinguished from East Kalimantan?
Should we develop a program to propose the vote right of Orangutan for election? Of course, you won't have to answer that….. (tsyulianto@tnc.org)
Posted at 09:48 am by tomyyulianto
Permalink
Jul 30, 2007
Tempat Pelatihan Alternatif
Biasanya, apabila kita akan melakukan pelatihan ataupun workshop maka diimajinasi kita adalah tempatnya berada di ruang hotel berbintang, tempat pertemuan khusus, atau minimal gedung sekolah atau kolong rumah yang disulap menjadi tempat pelatihan (seperti yang AcSI sering lakukan, hehehehe-ketahuan tidak punya modal)
Minggu lalu saya ingin menceritakan tempat pelatihan yang cukup unik. Pelatihan yang dilakukan di daerah hulu sungai segah yang sangat jauh dari perkampungan. Bermodalkan ketinting dan perlengkapan standard pelatihan kami meluncur ke tempat pelatihan yang dimaksud. Masyarakat dayak menyebutnya sungai dong (long dong). Setelah melewati beberapa jeram yang sangat deras yang beberapa diantara ketinting yang di kendarai oleh peserta mengalami kesulitasn melewatinya, akhirnya kami tiba di tempat tersebut.
Panitia lokal (tidak mau kalah dengan pelatihan lain) segera menyiapkan tempat pelatihan dengan membersihkan area pelatihan. Masyarakat dayak menyebutnya kersik (pinggiran sungai yang terdiri dari batu-batuan kecil). Mereka mendirikan tenda untuk bernaung yang kebetulan saat itu lagi hujan rintik. Dengan sigapnya mereka bekerja sesuai job deskripsi mereka. Ada yang menyiapkan kayu untuk memasang tenda, kayu yang agak kering untuk kayu bakar dan perlengkapan pelatihan lain. satu lagi kelompok spesial adalah kelompok pencari ikan. Dua ketinting dipersiapkan oleh mereka untuk menjala ikan di sungai di depan kami. kelompok ini yang jadi primadona.....
Sementara kelompok lain menyiapkan in focus, komputer dan kertas sederhana untuk slide presentasi.
Ditengah hujan rintik pelatihan dimulai. Sambil duduk bersila diatas kersik yang telah ditutupi tenda peserta sangat antusias mengikuti pelatihan. Apalagi bau ikan sungai yang sementara dibakar untuk persiapan makan siang peserta sangat menarik yang kadang diperbincangkan oleh peserta.
Sesi presentasi selesai yang dilanjutkan dengan makan siang. Hmmmm... luar biasa, peserta dan panitia seperti orang yang baru sembuh dari sakit yang butuh makan banyak untuk kesembuhan. Piring tidak punya space yang leluasa. Dipenuhi oleh nasi, ikan dan ikan dan ikan serta cabe yang khusus dibuat oleh seorang juru masak. Cabenya sangat sederhana, isinya, cabe, cabe, cabe, cabe dan cabe serta cabe dan ditambah garam sedikit.
Sesi ketiga diikuti dengan baik oleh peserta yang merupakan perwakilan masyarakat lokal sekitar hulu segah dan hulu kelay. Kelompok primadona tetap menjalankan tugas dengan baik dan terus berupaya keras untuk menyiapkan konsumsi lauk pauk ikan yang tersedia banyak di sungai.
Sesi malam dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Karena khawatir banjir akan melanda karena daerah hulu lagi mendung tebal maka tenda dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi dikersik. Lelah mendera, peserta tergeletak di ruang "pertemuan" hingga pagi. Diawali dengan sarapan sederhana sambil menunggu hasil kelompok primadona, bermain dengan air yang sangat jernih yang membuat badan segar merupakan pilihan yang tidak bisa dilewatkan. jernihnya air yang bisa terlihat dasar sungai membuat enggan untuk berhenti.
Sesi berikut tiba dilanjutkan sambil menunggu makan besar dengan banyaknya hasil tangkapan kelompok pencari ikan. Ikan sebesar betis dibakar diperapian dan dengan sambel yang luar biasa panas membuat peserta pelatihan kekenyangan.
Waktunya untuk pulang, sambil berkemas, sampah-sampah yang tersisa di kumpulkan untuk di bakar. Diakhiri ucapan terima kasih masyarakat, ketinting pertama membelah sungai segah yang sangat jernih dan menyimpan banyak potensi ikan dan emas.
salam
Posted at 02:00 pm by tomyyulianto
Permalink
Rektor UNHAS vs Rektor UNMUL
Kurang lebih 6 tahun saya wara wiri (malu untuk mengatakan kuliah...karena lebih banyak waktu dihabiskan diluar bangku kuliah) di kampus merah Universitas Hasanuddin. Seingat saya kurang dari 4 kali saya berinteraksi langsung dengan Rektor kala itu. Pertama kali melihatnya saat upacara pembukaan penataran P4 (masih jaman orde baru pren..) dilapangan kampus Hasanuddin. Itupun saya melihatnya dari jauh, raut mukanya saja saya tidak mampu lihat secara jelas.
Kedua kali saya melihatnya saat melakukan audiens dengannya. Saat itu lagi puber-pubernya berlembaga kemahasiswaan. Kala itu, lumayanlah saya bisa berhadap-hadapan dengannya. Setelah beberapa kali mondar-mandir ke gedung rektorat akhirnya beliau bisa menyisihkan waktu sibuknya untuk menemui kami. Saya masih bisa dengan jelas menggambarkan personifikasi beliau. Orangnya sangat perlente dengan jas dan dasi yang lengkap, berada digedung bertingkat dengan ruangan yang full AC. Dilayani dengan sekretaris yang siap mendengar perintah dan aba-aba dari beliau. Kurang lebih 30 meit beliau menemui kami dan setelah itu selesai..
Ketiga kalinya saya bertemu dengan beliau saat pemasangan toga digedung Baruga. Itupun hanya sebatas salaman mengucapkan selamat telah menyelesaikan studi. Sempat juga mengeluarkan sentilan kepada kami bahwa akhirnya selesai juga. Pertemuan keempat kalinya lagi-lagi harus mengeluarkan peluh untuk bertemu dengannya. Melalui proses panjang kami akhirnya bisa audiens dengannya untuk urusan kegiatan kampus. Pertemuan ini merupakan pertemuan terakhir dengan rektor Unhas. Bahasa mudah untuk menyimpulkan hal ini adalah sangat-sangat susah untuk bertemu dengan REKTOR UNHAS...
Tahun 2007....
Selamat malam Pak, mohon maaf terlambat.. itu kata-kata yang saya ucapkan ketika saya harus mengikuti perkuliahan pertama dikampus berbeda. Setelah itu saya mengikuti perkuliahan seperti biasa yang dibawakan oleh dosen ini. Dengan fasilitas lampu yang redup dibantu oleh kipas angin karena AC tidak dapat berfungsi dengan baik dan tidak mampu mendinginkan ruangan. Kuliah diantar oleh beliau dengan metode slide proyektor sangat sederhana. Ketinggalan jaman ditengah booming komputer dan LCD.
Minggu berikutnya dosen yang sama melanjutkan perkuliahan kedua ditengah fasilitas yang lebih memprihatinkan. Ruangan hanya diterangi oleh lampu penyimpan energi karena lingkungan kampus mendapat giliran pemadaman dan kipas angin yang sangat mengganggu operasional slide karena genset yang tidak memenuhi daya listrik yang yang dibutuhkan. Dengan tetap semangat dosen ini melanjutkan perkuliahan kami. Tampangnya sangat biasa dengan baju kain yang sederhana. Tanpa sengaja dia mengutarakan sebuah argumentasi yang sepertinya dia punya kuasa di kampus ini.
Rasa penasaran tiba-tiba menyergap. Jangan-jangan dosen ini adalah rektor kami? tapi yang bener saja, kemasan seperti itu dia rektor salah satu universitas negeri? Mobilnya saja cuma mobil biasa, pakaian sangat sederhana, tidak diladeni secara istimewa oleh pegawai akademik, hanya disiapkan dos minuman sederhana dan sama yang didapatkan oleh dosen lainnya. Dan apakah dia punya waktu luang untuk memberikan perkuliahan yang tidak terlalu penting karena masih tahap matrikulasi?
Benar adanya, dia rektor UNMUL, itu informasi dari rekan sejawat yang lebih dahulu pernah terlibat di kampus ini.
Dua hal yang sangat kontradiksi dengan pengalaman sebelumnya.
Rektor UNHAS yang sangat perlente, super sibuk, ingin bertemu dengannya saja harus melewati prosedur yang panjang berlawanan, yang diladeni dengan sempurna oleh dayang-dayang dan beberapa anggotanya.
Rektor UNMUL dengan tampilan ala kadarnya, memberikan pencerahan dengan slide proyektor manual yang itupun kadang mati, dengan kipas angin, mobil sederhana dan tanpa pengawal.
Aneh sekaligus menggelikan...
salam
Posted at 12:59 pm by tomyyulianto
Permalink
Jul 12, 2007
Banyak penghambat perubahan berpura-pura paling bermoral. Mereka percaya bahwa moralitas itu merekalah penjaganya. Padahal dari tangan merekalah lonceng kehancuran dibunyikan. Bukan nilai-nilai mulia yang mereka jaga, melainkan peraturan-peraturan lama yang harusnya sudah dimuseumkan (dikutip di sebuah buku yang judulnya lupa)
Dalam pandangan saya, ini virus yang banyak berseliweran di sekitar kita. Sejujurnya saya juga ingin mengatakan virus ini merembes disekitar rutinitas saya. Mungkin ini sangat subyektif adanya, bisa jadi penilaian ini juga dilekatkan orang lain kepada saya.
Penilaian ini saya lakukan dengan melihat perubahan-perubahan yang terjadi selama ini. Banyaknya jargon moralitas, ceramah-ceramah kebajikan yang tidak mampu dibumikan dengan tindak-tanduk yang selaras dengan jargon dan ceramah itu. Klaim-klaim kehebatan akan sesuatu pengetahuan tapi dalam kenyataannya tidak dapat dibuktikan kehebatan pengetahuan itu. Ceramah-ceramah kebajikan tersapu dengan pernyataan dan tindakan yang tidak bijak.
Sepertinya mereka qatam/tuntas memahami tentang politik. Mereka sangat menyadari bahwa image yang perlu mereka jaga. Tidak perduli apakah mereka menjalankan image yang sudah dibangun tersebut.
Mudah-mudahan saya yang salah. Mudah-mudahan benar adanya mereka pemegang kunci-kunci kebenaran dan moralitas. Sehingga perubahan yang kita inginkan dapat terwujud. Bukan sebaliknya dimana kita akan mendengar lonceng kehancuran. Karena bagaimanapun kita banyak berharap pada mereka. Mereka adalah "DEWA".
Salam
Posted at 07:09 pm by tomyyulianto
Permalink
May 31, 2007
Kemarin, saat tergolek dalam ruangan segi empat karena kelelahan, tiba-tiba terlintas wajah-wajah kawan lama saat kuliah dulu. Wajah-wajah saat diopspek dan mengopspek bersama. Ya, kawan seangkatan saat kuliah dulu. Kawan yang pernah ditendang dan menendang bersama. Kawan yang pernah dikerjai dan mengerjai bersama. Apa kabar kawan? mudah-mudahan kalian sehat semua. Apa kesibukan kalian sekarang? Saya yakin kalian sementara meretas jalan sukses masing-masing. Itu keyakinanku.
Apa kabar kawan?
Terasa sangat lama tidak pernah bertemu dengan kalian. Tiba-tiba muncul sebuah rasa penyesalan dalam benak. Ternyata selama ini kita tidak memaksimalkan kualitas dan kuantitas pertemuan kita saat di kampus dulu. Kita kadang terlalu larut dalam dunia sendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan yang lain.
Apa kabar kawan?
Hari ini saya menyadari bahwa ternyata selama ini saya banyak membuang waktu untuk tidak bercengkrama dengan kalian dan tidak menjalin komunikasi lagi. Mudah-mudahan besok, lusa kita bisa bertemu lagi. Mudah-mudahan kalian baik-baik saja dan sukses selalu menaungi kalian.
Apa kabar kawan?
Posted at 12:32 pm by tomyyulianto
Permalink
Jan 31, 2007
It's time to find another experience
Beberapa hari terakhir ini rasionalitas dan mentalitas saya terasa dipermainkan. Kondisi ini membuat semangat berfikir dan semangat kerja berada dititik nadir. Rasionalitas terasa dipermainkan melihat kerangka perencanaan program yang menurut pemahaman saya kacau balau yang disusun oleh "pembesar-pembesar" yang notabene adalah orang-orang yang saya anggap memiliki segala kapasitas yang melebihi apa yang saya miliki. Tapi melihat dagelan yang mereka mainkan, membuat saya bertanya apa mereka serius atau hanya bercanda saja?. Kok mereka bisa menyusun perencanaan kerja tanpa mengetahui apa yang mereka tuju?. Tapi melihat keseriusan mereka mendiskusikan hal ini, saya sampai pada keyakinan bahwa mereka tidak sedang bercanda. Yang semakin Aneh setelah mereka menyepakati perencanaan kerja barulah mereka memutuskan untuk melakukan diskusi tentang tujuan mereka dan bagaimana tujuan itu diterjemahkan dalam misi mereka. Melihat lawakan yang tidak lucu ini membuat saya melakukan refleksi, sepertinya saya bermasalah dengan kerangka fikir yang selama ini saya bangun.
Masalah kedua, terkait dengan permainan mentalitas, dimulai saat pembesar melakukan "kampanye" untuk perbaikan nasib. Saya ingin memahami bahwa hal ini dilakukan untuk memberikan pemanis dari langkah pahit yang mereka lakukan beberapa waktu sebelumnya. Dengan semangatnya mereka (dan sayangnya saya juga larut disini) melakukan rencana perubahan mendasar tentang pendekatan dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh masing-masing orang. Entah angin apa yang membuat semua ini berubah yang mengakibatkan mereka pada satu kesimpulan untuk tidak melakukan kebijakan apa-apa terkait dengan "kampanye" yang mereka telah lakukan sebelumnya. Tapi pada akhirnya saya menyadari ternyata organisasi ini berada di Indonesia yang pemimpinnya sangat senang untuk memberikan janji-janji yang ternyata hanya angin surga semata. Mereka hanya memberikan kata-kata manis dalam penamaan posisi yang baru. Sepertinya mereka merasa kita masih genit dengan label-label seperti itu.
Kedua hal tersebut setidaknya membuat saya harus menjejakkan kaki kembali ketanah. Menepiskan semua cita-cita ideal dan pragmatis yang coba saya bangun sebelumnya. Jujur, kondisi ini membuat saya harus merubah orientasi hidup dan orientasi kerja. Pada akhirnya saya harus mendegradasi mimpi-mimpi untuk berbuat lebih banyak bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Sampai pada satu persitilahan yang pada dasarnya saya sangat benci "...diberi sekian, memberikan sekian...". dan sepertinya saya juga harus menepikan semua mimpi untuk berbuat sedikit atas nama konservasi dan komintas karena ternyata hal ini tidak ada harganya bagi siapapun.
Sayup-sayup terdengar lagu katon bagaskara menjemput impian dari ruangan sebelah yang penghuninya lagi bergosip tentang keakuan dan keberhasilan-keberhasilannya selama ini yang membuat saya semakin sakit kepala dan semakin meneguhkan untuk menjemput impian di tempat lain. Semoga
salam
Posted at 04:10 pm by tomyyulianto
Permalink
Dec 16, 2006
Kemarin di pedalaman, hari ini ke ibukota...
Kemarin meeting, hari ini workshop...
Kemarin studi banding, hari ini training...
Benarkah yang telah saya lakukan untuk konservasi dan masyarakat marginal? atau ini semua hanya kedok untuk atas nama konservasi dan masyarakat?
Posted at 07:21 pm by tomyyulianto
Permalink
|